Pemkot Samarinda Akan Relokasi Pasar Subuh, Pedagang: Ini Warisan, Bukan Bangunan Liar
![]()
SAMARINDA – Sudah lebih dari lima dekade keluarga Yeni mengais rezeki di Pasar Subuh, kawasan yang dulunya dikenal sebagai Pasar Cina di Samarinda.
Dari sang ayah yang dulu menjajakan kue, hingga kini ia beralih menjual buah, pasar ini telah menjadi nadi kehidupan mereka. Tapi kini, pasar yang telah bertahan sejak generasi ke generasi itu terancam tergusur.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda bakal merelokasi pedagang Pasar Subuh ke Pasar Beluluq Lingau yang ada di Jalan PM Noor, Samarinda Utara.
“Kalau dihitung dari zaman orang tua saya, sudah lebih dari 50 tahun kami berjualan di sini,” tutur Yeni saat ditemui di Pasar Subuh, Minggu (4/5/2025).
Rencana penertiban oleh pemkot menurutnya membuat banyak pedagang resah. Bukan hanya soal kehilangan tempat berjualan, tapi juga karena alasan yang mereka nilai kurang transparan. Meskipun pemkot telah menyediakan lapak gratis dan tak pungut retribusi sementara waktu.
“Kami belum diberi alasan praktis. Katanya hanya soal penataan kota. Tapi, tidak ada sosialisasi yang jelas. Dulu tempat ini malah mau dijadikan ikon,” kata Yeni.
Ia menilai, jika memang pemerintah ingin menjadikan wilayah itu sebagai bagian dari konsep kawasan pecinan, maka mestinya dilestarikan, bukan dihapus.
“Kalau dihilangkan begitu saja, sejarahnya juga hilang. Padahal ini bagian dari wajah kota,” tambahnya.
Yeni dan para pedagang lainnya mengaku tidak pernah merasa liar atau ilegal. Mereka memiliki kartu pedagang dan rutin membayar sewa lapak, sekitar Rp1 juta per-tiga bulan untuk pedagang sayur dan Rp1,5 juta untuk pedagang daging yang diberikan ke pemilik lahan.
Dari 57 pedagang aktif di pasar itu, ia bilang sebagian besar memiliki legalitas yang sama.
“Kami bukan ilegal. Kami punya kartu dagang, ada kwitansi pembayaran. Kartu itu juga dikeluarkan pemkot sendiri,” ujarnya.
Baginya, Pasar Subuh bukan sekadar tempat jual beli, melainkan telah menjadi bagian ruang hidup, warisan, dan bagian dari denyut ekonomi masyarakat kecil.
Meski telah diberi tenggat waktu oleh pemkot, ia bersama pedagang yang lain tetap bersikukuh mempertahankan tempat itu untuk berjualan.
“Kalau digusur demi proyek besar, kok rasanya egois banget. Kami ini rakyat kecil, apa tidak bisa dihargai?” pungkasnya. (*)



Tinggalkan Balasan