Akses Udara Terbatas, Masyarakat Krayan Kesulitan Pulang untuk Natal

Loading

Inspirasimedia.com, NUNUKAN – Kesulitan transportasi menuju dataran tinggi Krayan kembali terjadi menjelang perayaan Natal. Kondisi ini, yang hampir setiap tahun berulang, kembali membuat masyarakat Krayan terancam tidak dapat pulang ke kampung halaman.

Wakil Kepala Adat Besar Krayan Barat, Dawat Udan, mengungkapkan bahwa sejak beberapa hari terakhir antrean panjang penumpang terlihat di Bandara Juwata Tarakan. Sebagian besar dari mereka adalah pelajar dan warga Krayan yang ingin kembali ke Long Bawan dan sekitarnya untuk merayakan Natal bersama keluarga.

“Antrean anak sekolah dan masyarakat Krayan sekarang terjadi di Bandara Tarakan. Semua ingin pulang Natal bersama orang tua di Krayan,” ujar Dawat.

Menurutnya, keadaan ini bukanlah hal baru. Setiap menjelang akhir tahun, masyarakat harus menghadapi keterbatasan transportasi udara menuju Krayan, wilayah penghasil beras adan yang diketahui hanya dapat diakses menggunakan pesawat kecil.

“Kondisi seperti ini terjadi setiap tahun. Pemerintah sepertinya bingung mengambil tindakan untuk membantu kesulitan masyarakat, termasuk orang Krayan yang ingin pulang,” tegasnya.

Ia juga mempertanyakan langkah pemerintah dalam berkoordinasi dengan maskapai untuk menambah armada penerbangan. Tanpa tambahan pesawat, masyarakat harus mengantre tanpa kepastian jadwal keberangkatan.

“Kami sebenarnya malu dengan antrean seperti ini. Apakah tidak ada armada tambahan agar masyarakat tidak harus menunggu sampai marah-marah,” keluhnya.

Dawat menjelaskan, Lembaga Adat Besar Dayak Lundayeh Krayan Barat telah mengirim surat resmi kepada TNI Angkatan Udara untuk meminta bantuan pesawat. Permohonan itu diajukan atas nama para Kepala Adat Besar Dayak Lundayeh se-Dataran Tinggi Krayan.

Dalam surat tersebut, masyarakat meminta dukungan pengangkutan penumpang menggunakan pesawat TNI AU untuk rute Tarakan–Long Bawan (PP). Bantuan ini dinilai sangat mendesak mengingat tingginya biaya perjalanan dan terbatasnya akses jalur transportasi reguler.

Rencana penerbangan yang dimohonkan dijadwalkan pada minggu ketiga hingga keempat Desember 2025 untuk keberangkatan, serta minggu pertama hingga kedua Januari 2026 untuk kepulangan.

“Mengingat keterbatasan akses dan tingginya biaya, bantuan dari TNI AU sangat kami harapkan,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini