Gebyar Literasi Kutim Catat 3.692 Kunjungan, Ardiansyah Ingatkan Bijak Bermedia Digital

Media Redaksi Redaksi
Suasana Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026 Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB, Sangatta Utara. (Foto: Dok. inspirasimedia.com)

Loading

inspirasimedia.com, SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengingatkan masyarakat agar tidak hanya memiliki kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga bijak menggunakan teknologi informasi.

Pesan itu disampaikan saat penutupan rangkaian Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026 Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB, Sangatta Utara, Minggu (4/10/2026).

Menurut Ardiansyah, literasi merupakan bagian penting dalam kehidupan, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat.

Literasi juga tidak sebatas membaca, tetapi mencakup kemampuan menulis, bercerita, memahami kehidupan dan berkomunikasi.

“Literasi itu hukumnya wajib di dalam kehidupan. Baik kehidupan secara pribadi, keluarga, masyarakat, kita berbangsa,” kata Ardiansyah.

Ia menyoroti penggunaan teknologi digital untuk menyebarkan cerita atau pembicaraan mengenai orang lain.

Menurutnya, kemudahan menyebarkan informasi harus diimbangi tanggung jawab dan kebijaksanaan dalam berkomunikasi.

“Kalau mau berkisah, mau berkesah cukup dituturkan langsung, jangan pakai jari,” tambahnya.

Ardiansyah juga melihat perkembangan Gebyar Literasi Kutim sebagai hal positif. Kegiatan yang sebelumnya memiliki 10 agenda kini berkembang menjadi 40 agenda dan melibatkan masyarakat, termasuk anak-anak.

Sementara itu, Ketua Panitia Pameran Buku Out of the Books Gebyar Literasi Kutim 2026, Deden Lukman, melaporkan capaian selama 10 hari pelaksanaan.

Pameran yang dibuka sejak 25 September tersebut mencatat 3.692 kunjungan dengan rata-rata 369 pengunjung per hari.

Jumlah transaksi pembelian buku mencapai 2.840 transaksi. Capaian tersebut bahkan mencapai 175 persen dari target penerbit selama pameran.

Mayoritas pembeli berasal dari kalangan keluarga, dengan buku anak-anak menjadi jenis yang paling diminati. Sekitar 30 persen buku yang terjual berada pada kisaran harga Rp3.800 hingga Rp15.000.

“2.500 orang pegiat literasi, masyarakat umum, anak sekolah kumpul di aula ini selama 10 hari. Itu bukan hal yang mudah tentunya,” ujar Deden.

Selain pameran buku, sebanyak 15 rangkaian kegiatan turut digelar. Di antaranya mendongeng bersama Bunda Literasi, talk show tentang kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) dan keuangan, workshop penulisan hingga perlombaan seni dan literasi tingkat kabupaten.

Deden mengatakan kegiatan tersebut terlaksana dengan dukungan anggaran sekitar Rp95,6 juta.

Sekitar Rp79 juta bersumber dari Yayasan Pendidikan Prima Swarga Bara (YPPSB), sedangkan sekitar Rp15,7 juta berasal dari dana kolaborasi yang melibatkan Mizan dan sponsor.

Ia berharap, dukungan terhadap kegiatan literasi dapat terus ditingkatkan sehingga ruang-ruang literasi yang edukatif dan inklusif semakin banyak tersedia bagi masyarakat Kutim.

Menurut Deden, tingginya kunjungan dan keterlibatan masyarakat menjadi tanda bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk membaca, belajar dan mengembangkan kreativitas.

“Ketika pemerintah daerah, PT KPC, YPPSB, unsur TNI Polri, penerbit serta komunitas bergerak bersama dalam satu frekuensi, maka literasi tidak lagi sekadar wacana. Namun sebuah gerakan nyata yang menggerakkan banyak masyarakat di Kutai Timur,” pungkasnya. (Ls/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini