Dari Jemaat ke Gen-Z, Gereja Rama Tanam Asa dan Nurani
![]()
Sangatta — Di tengah keheningan Gedung Gereja Jemaat Rama, Desa Singa Gembara, puluhan anak dan remaja duduk menyimak materi yang tak biasa mereka temui di ruang kelas. Bukan sekadar khotbah atau nyanyian rohani, kali ini mereka diajak memahami tubuh, batasan pergaulan, dan dampak media sosial. Kegiatan ini digelar oleh Pengurus Sekolah Minggu dan Remaja Gereja Toraja (SMGT) sebagai bagian dari pembinaan menyambut Natal 2025.
Sebanyak 92 peserta hadir dalam kegiatan yang mengangkat dua tema utama: pendidikan seks dan pengaruh media sosial terhadap perilaku Gen-Z. Materi disampaikan oleh Yuliana Kalalembang, pengurus Persatuan Wanita Gereja Toraja (PWGT) Klasis Kutim sekaligus pejabat lingkup Pemkab Kutim. Dengan pendekatan komunikatif, Yuliana mengajak anak-anak mengenali fungsi tubuh, memahami konsep seksualitas, dan menjaga diri dari potensi kekerasan atau eksploitasi.
“Pendidikan seksual bukan mengajarkan anak untuk melakukan seks, tapi membekali mereka agar tidak menjadi korban atau pelaku dalam situasi yang salah,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa pengenalan seksualitas sejak dini adalah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Tak kalah penting, Yuliana membahas pengaruh media sosial terhadap cara anak muda memandang diri, membangun relasi, dan mengambil keputusan. Para peserta diajak memahami algoritma, konten viral, dan tekanan eksistensi digital yang kerap membuat mereka cemas dan kehilangan arah.
“Anak-anak zaman sekarang sangat cepat menangkap informasi, tapi belum tentu bisa memilah mana yang baik dan buruk,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, banyak peserta mengungkapkan pengalaman mereka di media sosial, dari TikTok hingga Instagram, termasuk tekanan untuk tampil sempurna dan rasa cemas yang menyertainya. Yuliana menegaskan bahwa gereja, orang tua, dan komunitas harus hadir sebagai pendamping aktif dalam proses tumbuh kembang anak.
Ketua panitia kegiatan menyebut bahwa pembinaan ini bukan sekadar rutinitas Paskah atau Natal, melainkan bentuk nyata komitmen gereja dalam merespons tantangan zaman.
“Kami ingin anak-anak ini bukan hanya pintar secara akademik, tapi juga kuat secara mental dan spiritual. Mereka akan menjadi pelopor generasi Emas 2045,” ucapnya.
Kegiatan berlangsung dengan semangat kolektif. Sebagian besar peserta mengaku baru pertama kali mendapat materi pendidikan seks dan literasi digital secara terbuka dan ramah anak. Banyak yang berharap kegiatan serupa bisa digelar rutin.
Dari ruang ibadah yang biasanya dipenuhi puji-pujian, kini lahir semangat baru: gereja sebagai ruang aman dan strategis untuk membina generasi muda. Di tengah godaan zaman, Gereja Rama menyalakan lentera kecil—menanamkan asa dan nurani. (ADV/ProkopimKutim/IM)



Tinggalkan Balasan