Pemkab Kutim Tekankan Keadilan Anggaran dan Pembangunan Responsif Gender

Loading

Inspirasimedia.com,SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan anak (DP3A) kembali menegaskan pentingnya keadilan dalam penganggaran dan pembangunan yang benar-benar responsif terhadap seluruh kelompok masyarakat, terutama kelompok rentan.

Kepala dinas DP3A Idham Kholid menjelaskan bahwa Anggaran responsif gender itu bukan anggaran untuk perempuan saja. Jangan salah kaprah. Ini anggaran untuk semua, untuk memastikan pembangunan kita adil dan bisa dinikmati kelompok rentan.

Ia menambahkan bahwa setiap rupiah dari anggaran daerah wajib memberi manfaat yang setara.

“Itu uang rakyat. Jadi kembali harus ke rakyat, tapi adil. Kita ini sering bangun sesuatu bagus, tapi tidak memikirkan yang pakai. Di situ letak masalahnya,” ujarnya.

Pemerintah juga menyoroti bahwa selama ini pembangunan fisik lebih menonjolkan estetika daripada aksesibilitas. Contohnya fasilitas publik yang tidak ramah bagi disabilitas atau trotoar yang sulit dilalui kursi roda. “Bukan berarti kita larang membangun yang cantik. Tapi harus dipikirkan siapa yang pakai. Jangan baru sadar setelah selesai bahwa kelompok disabilitas tidak bisa lewat,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa keadilan dalam penganggaran bukanlah tugas satu dinas, melainkan seluruh OPD. “Ini bukan pekerjaan Dinas P3A saja. Semua OPD wajib memasukkan perspektif gender dalam perencanaan sampai pelaksanaan. Kalau tidak, ya pembangunan kita timpang terus,” ujarnya.

Lebih jauh, pemerintah mengingatkan agar OPD benar-benar memahami konsep gender, bukan hanya menjadikannya formalitas laporan. “Jangan salah paham. Gender itu bukan bicara laki-laki atau perempuan saja. Ini soal siapa yang tidak mendapatkan akses, tidak ikut berpartisipasi, dan tidak dapat manfaat. Itu yang harus kita perbaiki,” jelasnya.

Dengan penguatan komitmen ini, Pemkab Kutai Timur berharap pembangunan daerah ke depan tidak hanya terlihat megah, tetapi juga memberi manfaat yang adil. “Kita ingin pembangunan yang inklusif. Indah boleh, tapi tetap harus manusiawi dan bisa digunakan semua orang,” tutupnya.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini