BPBD Kutim Gelar Gladi Ruang dan Posko, Perkuat Kesiapsiagaan Banjir 2025

Kesiapsiagaan menghadapi banjir di Kutim diperkuat lewat gladi ruang, gladi posko, dan pembentukan posko siaga. Langkah ini menegaskan komitmen Pemkab Kutim menjaga keselamatan warga dengan skenario penanggulangan yang terstruktur.
Media Redaksi Redaksi

Loading

Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir yang dapat berdampak luas pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kegiatan sosialisasi dan simulasi penanggulangan bencana digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Bukit Pelangi sebagai bagian dari penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi Banjir 2025.

Kepala Pelaksana BPBD Kutim, Sulastin, menegaskan bahwa banjir merupakan salah satu ancaman bencana paling sering terjadi di wilayah Kutim. Karena itu, kolaborasi lintas instansi dan pembentukan posko siaga menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko sekaligus mempercepat respon darurat di lapangan.

“Potensi banjir yang tinggi di Kutim mendasari pentingnya kegiatan ini. Tujuannya adalah untuk menyusun skenario penanggulangan banjir yang terstruktur dan terkoordinasi,” ujarnya.

Kegiatan ini dibagi menjadi tiga agenda utama, yakni sosialisasi dokumen, gladi ruang (table top exercise/TTX), dan gladi posko (command post exercise/TCX). Gladi ruang dan posko menjadi wadah untuk menguji kesiapan operasional serta koordinasi antarinstansi dalam menghadapi situasi darurat.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kaltim yang diwakili oleh Ivan Ramdhany menekankan pentingnya tanggap dan sigap dalam menghadapi bencana.

“Sosialisasi ini sangat penting agar penanganan bencana dapat dilakukan secara jelas dan sistematis,” tambahnya.

Bupati Kutim yang diwakili oleh Plt Asisten Pemerintahan Umum dan Kesra, Trisno, menyoroti fakta geografis Kutim yang memiliki empat Daerah Aliran Sungai (DAS), menjadikannya daerah dengan risiko banjir yang sangat tinggi. Ia juga mengingatkan kembali tantangan yang dihadapi saat penanganan banjir di Sangatta pada tahun 2022, di mana penanganan sempat terhambat.

“Persiapan adalah kunci dalam penanganan bencana,” tegasnya.

Trisno menambahkan bahwa banjir dapat diprediksi 24–48 jam sebelumnya jika didukung oleh alat deteksi yang memadai, seperti pengukur ketinggian air. Ia mencontohkan pengalamannya menggunakan aplikasi ArcGIS untuk mitigasi banjir, yang memungkinkan penanganan secara lebih optimal.

“Semoga dengan adanya Dokumen Kontingensi Banjir ini, mitigasi banjir di Kutim dapat dilakukan secara maksimal,” harapnya.

Pelaksanaan sosialisasi dan gladi ini diharapkan dapat menghasilkan skenario penanggulangan yang matang, memastikan koordinasi yang efektif, serta mempersiapkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghadapi potensi banjir di masa depan. (ADV/ProkopimKutim/IM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini