Samarinda Waspadai Lonjakan Harga, BI Sebut 10 Komoditas Pemicu Inflasi
![]()
Inspirasimedia.com, SAMARINDA – Menjelang pergantian tahun, tekanan harga di pasar diprediksi kembali meningkat. Bank Indonesia mencatat 10 komoditas utama yang diperkirakan memberi andil besar terhadap inflasi pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Mulai dari pangan, energi rumah tangga, hingga tarif transportasi, seluruhnya menunjukkan pola historis kenaikan yang berulang tiap tahun.
Asisten Direktur Bank Indonesia Perwakilan Kaltim, Ashari Novy Sucipto, menyebut kenaikan permintaan masyarakat dalam waktu singkat menjadi faktor pemicu utama.
Ia menegaskan tekanan harga jelang hari besar seperti natal dan tahun baru (nataru), ramadan, serta idulfitri bukan sekadar fenomena musiman, melainkan pola historis yang konsisten terjadi setiap tahun.
Dari seluruh komoditas, beras tetap menjadi penyumbang inflasi terbesar. Konsumsi rumah tangga yang meningkat drastis menjelang hari penting tiap tahun membuat sedikit gangguan pasokan saja mampu melambungkan harga.
“Beras secara umum menjadi penyumbang inflasi pada momen HBKN seiring dengan peningkatan konsumsi,” ujar Ashari dalam high level meeting bersama TPID Kota Samarinda belum lama ini.
Selain beras, minyak goreng juga masuk daftar komoditas yang sensitif menjelang masa libur panjang.
Kenaikan mobilitas masyarakat untuk mudik dan liburan juga dipastikan memengaruhi tarif angkutan udara. Lonjakan permintaan biasanya langsung diikuti peningkatan harga tiket pesawat.
“Secara historis, angkutan udara cenderung menjadi penyumbang inflasi pada Idulfitri maupun Nataru,” jelasnya.
Untuk komoditas nonpangan, emas perhiasan menjadi salah satu penyumbang inflasi yang cukup konsisten setiap akhir tahun. Permintaan emas naik untuk kebutuhan investasi, hadiah, maupun kegiatan perayaan.
Pada sektor hortikultura, cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih tercatat kerap mengalami fluktuasi harga yang tajam pada periode HBKN, terutama dipengaruhi cuaca dan distribusi antardaerah.
Sementara itu, untuk komoditas protein, daging ayam ras dan ikan layang juga menunjukkan potensi kenaikan harga jika pasokan tidak terjaga.
Secara nasional, pemerintah menargetkan inflasi di kisaran 2,5 persen. Untuk Samarinda, inflasi November tercatat di angka 2,10 persen, masih dalam koridor sasaran, namun menunjukkan sinyal tekanan menjelang puncak konsumsi akhir tahun.
“Distribusi dan pasokan harus dijaga. Gangguan sedikit saja bisa menimbulkan dampak besar,” pungkasnya. (*)



Tinggalkan Balasan