Pecahkan Rekor MURI, 1.540 Pelajar Kutai Timur Lukis Batik Motif Patororos

Loading

INSPIRASIMEDIA.COM, SANGATTA – Dalam rangka memperingati HUT Kutai Timur ke-25, sebuah prestasi membanggakan berhasil ditorehkan dengan pemecahan rekor MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia) melalui kegiatan melukis batik motif Patororos khas Kutai Timur. Acara yang berlangsung pada 20 November 2024 tersebut melibatkan 1.540 pelajar dari berbagai sekolah di seluruh Kutai Timur.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal, khususnya batik motif Patororos yang sarat akan nilai historis dan budaya. “Kami sangat bangga bisa mencatatkan prestasi ini. Ini bukan hanya pencapaian besar, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya yang kami miliki,” ujar Fadliansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur, saat ditemui awak media pada 20 November 2024.

Dalam prosesnya, setiap pelajar diberikan kesempatan untuk melukis motif Patororos, yang mengandung simbolisme khas Kutai Timur. Para peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini, mengingat batik Patororos memiliki keunikan tersendiri dalam desain dan filosofi. “Kami berharap melalui kegiatan ini, generasi muda bisa lebih mengenal dan mencintai budaya daerah mereka sendiri,” tambah Fadliansyah.

Keberhasilan pemecahan rekor MURI ini merupakan hasil kerja sama antara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Timur serta para penggiat seni budaya lokal. Tidak hanya itu, keterlibatan berbagai pihak juga menunjukkan pentingnya sinergi dalam melestarikan warisan budaya. “Dengan melibatkan pelajar, kita tidak hanya melestarikan batik, tetapi juga memberikan pengalaman berharga dalam mengapresiasi seni tradisional,” ungkap Fadliansyah.

Selain mencatatkan rekor, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk mendorong lebih banyak aktivitas kebudayaan serupa di masa depan. Sertifikat MURI yang diraih menjadi simbol semangat pelestarian budaya yang harus dijaga. Harapan besar terletak pada generasi muda untuk meneruskan dan mengembangkan tradisi batik Patororos, memastikan warisan ini tetap hidup dan berkembang di tengah arus modernisasi. (ky/adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini