Ada “Data Bayangan” HIV di Kutim, Dinkes Akan Sinkronkan dengan Kemenkes

Media Redaksi Redaksi
Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana. (Foto: Dok. inspirasimedia.com)

Loading

inspirasimedia.com, SANGATTA – Data kelompok berisiko terinfeksi HIV di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang sebelumnya hanya diketahui melalui penjangkauan komunitas kini mulai diarahkan masuk dalam pendataan resmi.

Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel darah putih atau sel CD4.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati mengatakan, selama ini terdapat data yang diperoleh melalui komunitas karena tidak semua kelompok dapat ditemukan oleh petugas secara langsung.

Ia menyebut data tersebut sebelumnya sebagai “data bayangan”. Penjangkauan oleh komunitas memungkinkan informasi mengenai orang-orang yang menjadi sasaran pemeriksaan diketahui lebih luas.

Menurutnya, anggota komunitas dapat masuk ke lingkungan tertentu karena mereka bukan petugas resmi.

Mereka kemudian menggali informasi mengenai orang-orang yang menjadi sasaran pemeriksaan HIV.

“Mereka kan bukan petugas secara resmi. Sehingga mereka justru malah mudah masuk ke komunitas-komunitas tadi. Kemudian menggali info-info dan sebagainya,” ungkap dr. Yuwana.

Yuwana mengatakan, pengalaman anggota komunitas di lingkungan tersebut membuat mereka lebih mudah diterima saat melakukan penjangkauan.

Dari sana, mereka dapat mengetahui orang-orang yang perlu diarahkan untuk menjalani pemeriksaan.

“Begitu mereka masuk ke komunitas itu mereka bisa diterima. Pada saat mereka menggali informasi, ternyata tahu orang-orang yang menjadi sasaran untuk dilakukan tes,” jelasnya.

Untuk penjangkauan tersebut, Dinkes bekerja sama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan komunitas.

Sementara untuk lokasi seperti lokalisasi dan kafe, petugas bersama tim tetap melakukan penyuluhan serta pemeriksaan HIV dan penyakit infeksi menular seksual (IMS).

“Kalau untuk yang lokalisasi, kemudian kafe-kafe, itu petugas kami turun bersama tim biasanya. Itu selain melakukan penyuluhan, kemudian juga ada pemeriksaan HIV dan juga pemeriksaan penyakit infeksi menular seksual,” ujar Yuwana.

Data yang diperoleh melalui KPA dan komunitas tersebut kini akan ikut dimasukkan dalam pendataan Dinkes.

Dengan begitu, data yang sebelumnya disebut sebagai data bayangan dapat disinkronkan dengan data Kementerian Kesehatan.

“Nanti semua bisa masuk ke data Kemenkes dan itu bisa sinkron datanya,” pungkasnya. (Ls/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini