Kilometer 5 Dipilih Jadi Lokasi TPA Baru, Mahyunadi Ungkap Pertimbangannya

Media Redaksi Redaksi
Wakil Bupati Kuti, Mahyunadi saat diwawancara wartawan. (Foto: Dok. inspirasimedia.com)

Loading

inspirasimedia.com, SANGATTA – Pemilihan Kilometer 5 Sangatta sebagai lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) baru tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tempat pembuangan sampah.

Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menyebut lokasi tersebut juga berkaitan dengan rencana pembangunan jalan tembus menuju Kabo.

Hal itu disampaikan Mahyunadi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Kerukunan Keluarga Pinrang (KKP) Kutim di Gedung BPU Kecamatan Sangatta Utara.

Menurutnya, pembahasan lokasi TPA telah dilakukan dalam empat atau lima kali rapat. Sejumlah lokasi sempat diusulkan, mulai dari bekas tambang, Rantau Pulung, Ring Road, sekitar kantor camat, Kilometer 5, hingga Kilometer 12 dekat Menara 4.

Kilometer 5 kemudian dipilih karena dinilai lebih dekat dengan jalur menuju lokasi TPA. Jarak yang lebih dekat dinilai dapat mengurangi biaya operasional pengangkutan sampah.

“Karena jangkauannya dekat, sehingga lebih dekat bisa meminimalisir biaya operasional. Kalau jauh, biaya operasionalnya tinggi,” jelas Mahyunadi.

Selain pertimbangan jarak, Mahyunadi menyebut lokasi tersebut berkaitan dengan rencana pembangunan jalan tembus dari Kilometer 5 menuju Kabo. Akses tersebut nantinya dapat menjadi salah satu jalur menuju kawasan TPA.

Pengelolaan sampah di TPA baru juga diharapkan tidak hanya berakhir pada proses pembuangan. Mahyunadi menyebut sampah yang masih memiliki nilai guna, seperti plastik, dapat dimanfaatkan atau diolah sehingga sampah yang benar-benar terbuang hanya sekitar 20 persen.

Pembahasan lokasi TPA baru ini berkaitan dengan TPA Batota yang berada dalam area aktivitas PT Kaltim Prima Coal (KPC). KPC disebut perlu menyediakan tempat pembuangan sampah pengganti.

Terkait polemik lahan Kilometer 5, Mahyunadi membantah tudingan keterlibatannya dalam perjanjian lahan tersebut.

“Insya Allah, saya yakinkan kepada seluruh saudara-saudara saya, saya tidak terlibat sedikit pun masalah kongkalikong perjanjian lahan di kilo lima tersebut,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Mahyunadi juga mengajak keluarga besar KKP menjaga kekompakan. Menurutnya, persatuan menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan.

“Modal utama yang bisa kita pakai untuk membangun dengan baik itu adalah persatuan,” ujarnya.

Ia berharap, KKP terus menjadi wadah yang dapat mengayomi anggotanya, termasuk membantu menyelesaikan persoalan yang muncul di internal maupun dengan paguyuban lain di Kutim. (Ls/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini