STIPER Kutim Siapkan Program Vokasi Sawit, Buka Peluang Kerja bagi Anak Muda

Media Redaksi Redaksi
Suasana Rapat paripurna DPRD Kutim. Foto: Dok. inspirasimedia.com)

Loading

inspirasimedia.com, SANGATTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) mendorong pendidikan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah program vokasi selama satu tahun di Sekolah Tinggi Pertanian Kutai Timur (STIPER Kutim) melalui kerja sama dengan Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta.

Program ini diharapkan membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja terampil di perkebunan kelapa sawit.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan rencana tersebut dalam Rapat Paripurna ke-8 Masa Persidangan Pertama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur Tahun Sidang 2026–2027 dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Kutai Timur.

Ardiansyah menjelaskan, program vokasi tersebut dirancang untuk menyiapkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan perkebunan kelapa sawit.

Menurutnya, tenaga terlatih yang menduduki jabatan tertentu di sektor perkebunan selama ini banyak berasal dari perguruan tinggi lain.

Melalui kerja sama dengan INSTIPER Yogyakarta, ia berharap generasi muda Kutai Timur memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh pendidikan yang dapat menjadi bekal memasuki dunia kerja.

“Insyaallah STIPER akan membuka program vokasi satu tahun kerja sama dengan INSTIPER Jogja yang khusus menyiapkan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit,” ujar Ardiansyah.

Ia juga berharap program tersebut dapat menarik minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan di STIPER Kutai Timur.

Menurutnya, akses pendidikan perlu didukung fasilitas yang memudahkan mahasiswa, terutama bagi mereka yang berasal dari kecamatan di luar Sangatta.

Ardiansyah menyebut, salah satu kendala yang masih dihadapi calon mahasiswa adalah tempat tinggal selama menempuh pendidikan di Sangatta.

Untuk membantu menjawab kebutuhan itu, STIPER Kutai Timur telah memiliki asrama yang pembangunannya mendapat dukungan dari PT Kaltim Prima Coal (KPC).

“Yang saya dengar di berbagai kecamatan, ingin kuliah di Sangatta, tapi satu yang sulit, tempat tinggal tidak ada katanya,” ungkapnya.

Keberadaan asrama diharapkan dapat membantu masyarakat dari berbagai kecamatan yang ingin melanjutkan pendidikan di STIPER.

Bersamaan dengan itu, program vokasi satu tahun diharapkan menjadi pilihan bagi anak muda yang ingin memperoleh keterampilan praktis dan mempersiapkan diri bekerja di sektor perkebunan.

Pengembangan pendidikan vokasi juga berkaitan dengan persoalan ketenagakerjaan di Kutai Timur. Ardiansyah menyampaikan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada 2025 tercatat sebesar 6,20 persen.

Dalam perubahan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2026, TPT ditargetkan berada pada kisaran 5,90–6,30 persen. Sementara itu, target pada RKPD 2027 ditetapkan sebesar 5,50–6 persen.

Menurut Ardiansyah, pencapaian target tersebut membutuhkan kerja bersama. Pertumbuhan investasi di daerah perlu diikuti dengan pembukaan lapangan kerja agar masyarakat Kutai Timur turut merasakan manfaat perkembangan ekonomi.

Selain itu, pendidikan dan pelatihan vokasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan keterampilan yang sesuai, masyarakat lokal diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengisi posisi yang dibutuhkan perusahaan.

“Keterampilan tenaga kerja harus terus ditingkatkan agar masyarakat Kutai Timur tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan,” tegasnya.

Ardiansyah menekankan, generasi muda Kutai Timur perlu memiliki kompetensi dan kesempatan untuk membangun masa depan di daerahnya sendiri. Upaya tersebut menjadi bagian dari sasaran pembangunan daerah pada 2026 dan 2027.

Pemerintah daerah menargetkan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penguatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita, pengurangan kesenjangan, penurunan kemiskinan, serta pengurangan pengangguran.

Ardiansyah menjelaskan, sasaran-sasaran tersebut saling berkaitan. Pertumbuhan ekonomi diharapkan membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menekan kemiskinan.

Sementara itu, pembangunan yang lebih merata diharapkan dapat mengurangi kesenjangan di Kutai Timur.

Karena itu, peningkatan keterampilan tenaga kerja dan perluasan akses pendidikan menjadi bagian penting agar masyarakat lokal dapat mengambil peran dalam pembangunan daerah, termasuk memanfaatkan peluang kerja di sektor perkebunan kelapa sawit. (Ls/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini