Generasi Ahli, Harapan Baru Kutai Timur Lawan Korupsi
![]()

SANGATTA—Tata kelola pemerintahan yang bersih menjadi perhatian besar Pemerintahan Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Pemkab Kutim menaruh harapan besar pada generasi muda. Bukan sekadar sebagai penerus, melainkan sebagai agen perubahan yang dibekali keahlian multidisiplin untuk menjawab tantangan korupsi secara komprehensif.
Yusuf T Silambi, anggota legislatif Kutim, menegaskan pentingnya menyiapkan pemuda yang tidak hanya berintegritas, tetapi juga memiliki kompetensi teknis di berbagai bidang ilmu. Menurutnya, pendekatan jangka panjang melalui pembentukan tenaga ahli adalah fondasi utama dalam membangun sistem yang tahan terhadap praktik korupsi.
“Mudah-mudahan para pemuda-pemuda ke depan tumbuh pakar hukum, pakar ekonom, pakar sosiologi untuk melihat bahwa bagaimana kita contoh di negara-negara lain,” ujar Yusuf.
Harapan Yusuf bukan tanpa alasan. Ia melihat bahwa korupsi bukan hanya persoalan hukum semata, melainkan akar masalah yang menyangkut tata kelola keuangan, struktur sosial, hingga budaya lokal. Oleh karena itu, kehadiran pakar hukum dinilai penting untuk memperkuat sistem peradilan dan penegakan hukum di tingkat daerah. Dengan begitu, efek jera terhadap pelaku korupsi bisa benar-benar terasa.
Di sisi lain, keberadaan pakar ekonomi diharapkan mampu merancang sistem pengelolaan keuangan daerah yang transparan dan akuntabel. Sementara pakar sosiologi dibutuhkan untuk memahami dinamika sosial yang kerap menjadi lahan subur praktik korupsi. Sehingga solusi yang dirancang menyentuh akar persoalan, bukan hanya gejalanya.
Yang menarik, Yusuf tidak hanya berpikir lokal. Ia mengajak generasi muda Kutim untuk membuka mata terhadap praktik baik di negara-negara yang telah sukses memberantas korupsi. Dengan mempelajari model-model tersebut, daerah ini berpeluang membangun sistem pemerintahan yang lebih tangguh tanpa harus mengulangi kesalahan yang sama.
Pernyataan Silambi bahwa untuk melihat bagaimana kita contoh di negara-negara lain, menjadi penegas bahwa solusi lokal bisa diperkaya dengan perspektif global, selama diadaptasi dengan konteks sosial dan budaya setempat.
Upaya ini memang tidak instan. Namun, dengan menanam benih kompetensi sejak dini, Kutim berpeluang melahirkan generasi yang tidak hanya mampu menghindari korupsi, tetapi juga membangun mekanisme pencegahannya secara sistematis dan berkelanjutan. (ADV)



Tinggalkan Balasan