Resmikan Dua SPAM, Bupati Kutim: “Tak Ada Lagi Air Digilir”
![]()
Sangatta — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menegaskan komitmennya menghadirkan layanan air bersih yang merata. Juni 2025 lalu, dua Instalasi Pengolahan Air (IPA) resmi mengalirkan harapan: IPA Kabo berkapasitas 50 liter per detik dan IPA Sangkima–Teluk Singkama dengan kapasitas 10 liter per detik. Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.
Kedua Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) ini dibangun melalui skema kontrak tahun jamak (MYC) oleh Dinas PUPR Kutim sejak 2023, dengan total anggaran Rp64,8 miliar. IPA Kabo melayani kawasan padat di Sangatta Utara hingga Patung Burung, sementara IPA Sangkima menjangkau wilayah pinggiran seperti Teluk Singkama.
“Air bersih adalah kebutuhan paling mendasar. Hari ini, kami wujudkan sebagian dari janji itu,” ujar Ardiansyah.
Ia menekankan bahwa kuantitas saja tidak cukup. Mutu dan kelayakan air harus menjadi prioritas. Ardiansyah tidak ingin Perumdam TTB hanya dikenal sebagai “perusahaan air mandi”.
“Air yang kita salurkan harus layak konsumsi,” tegasnya.
Untuk desa-desa terpencil, Ardiansyah mendorong optimalisasi SPAMDes dengan dukungan kepala desa dan perangkat kampung. Ia menyebut bahwa membangun layanan dasar adalah bentuk penghormatan terhadap martabat manusia. Pipa air yang mengalir ke dapur warga Teluk Singkama dianggap lebih bermakna daripada proyek monumental.
Direktur Utama Perumdam TTB Kutim, Suparjan, menyampaikan bahwa IPA Kabo akan menopang sekitar 4.000 sambungan rumah. Layanan ini diharapkan mampu menstabilkan tekanan air antara Sangatta Utara dan Selatan.
“Kami targetkan keseimbangan layanan air bersih di kedua wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, IPA Sangkima–Teluk Singkama memiliki misi khusus untuk melayani desa-desa yang sebelumnya hanya mengandalkan air sumur dangkal dan air hujan. Dengan kapasitas 10 liter per detik, SPAM ini menjadi titik awal pemerataan layanan di kawasan pinggiran.
Peresmian dua SPAM ini menandai babak baru dalam pelayanan dasar di Kutai Timur. Air bersih kini bukan lagi wacana musrenbang atau janji kampanye. Dari Kabo hingga Teluk Singkama, dua titik air menyatu dalam satu asa. Seperti yang kerap diucapkan Ardiansyah,
“Kita belum selesai. Tapi hari ini, kita sudah mulai.” (ADV/ProkopimKutim/IM)



Tinggalkan Balasan