Kios Sunyi, Jalan Ramai: Pasar Sangsel Butuh Penataan Nyata

Inspeksi mendadak Disperindag Kutim di Pasar Sangatta Selatan mengungkap ketimpangan antara fasilitas dan pemanfaatan. Ratusan kios permanen terbengkalai, sementara pedagang liar masih marak di bahu jalan. Pemerintah berjanji menata ulang zonasi dan menghidupkan kembali fungsi pasar sebagai pusat ekonomi rakyat.
Media Redaksi Redaksi

Loading

Sangatta Selatan — Di tengah persiapan menjelang Iduladha 1446 Hijriah, geliat ekonomi rakyat kembali menjadi sorotan. Namun bukan hanya soal stok dan harga bahan pokok yang menjadi perhatian. Di Pasar Sangatta Selatan (Sangsel), ketimpangan antara pembangunan dan pemanfaatan ruang dagang kembali mencuat.

Inspeksi mendadak yang dilakukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Timur pada pertengahan Oktober 2025 mengungkap fakta mencolok: kios-kios permanen yang dibangun rapi dan bertingkat nyaris kosong, sementara pedagang justru memilih berjualan di sepanjang bahu jalan.

Pemerintah telah membangun sekitar 160 kios di lantai 1 dan 2 pasar. Namun, data sementara menunjukkan hanya sekitar 40 kios yang aktif digunakan. Sisanya dibiarkan kosong, tertutup debu, dan kehilangan fungsi.

“Kita sudah punya kios yang dibangun dan sayang jika dibiarkan terbengkalai. Harus ada pemanfaatan yang optimal,” tegas Camat Sangatta Selatan Abbas, yang turut mendampingi sidak.

Ia menilai keberadaan pedagang liar tak hanya melanggar aturan, tetapi juga mengganggu ketertiban dan estetika kota. Abbas mendesak agar Satpol PP melakukan penertiban rutin terhadap pedagang yang masih nekat menggelar lapak di pinggir jalan. Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang lebih memilih berbelanja cepat dari kendaraan ketimbang masuk ke dalam pasar.

“Ini soal pola pikir. Tapi aturan harus ditegakkan. Pedagang harus masuk ke dalam kios agar pasar tertata rapi,” ujarnya.

Kepala Disperindag Kutim, Nora Ramadhani, menyebutkan perlunya langkah sistematis untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Salah satunya adalah melakukan pendataan ulang seluruh kios yang tersedia.

“Kalau ada yang kosong dan tidak dipakai, akan kita alokasikan ke pedagang yang mau masuk. Kita juga akan hitung pedagang pinggir jalan dan sesuaikan dengan jumlah kios yang tersedia,” jelas Nora.

Ia menyadari bahwa membangun fisik pasar saja tidak cukup. Butuh strategi agar ruang-ruang tersebut hidup dan dimanfaatkan sesuai fungsinya. Salah satu harapan datang dari lantai dua pasar, yang kini dilengkapi dengan fasilitas Kantor Kas Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Kutim. Kehadiran layanan perbankan ini diharapkan mampu menarik lebih banyak aktivitas ke dalam bangunan pasar.

“Kami akan rangkum semua masukan, lalu tetapkan langkah lanjutan agar pasar bisa difungsikan optimal dan zonasi pedagang tertata,” tambahnya.

Penataan pasar Sangsel juga terkendala oleh minimnya fasilitas penunjang, termasuk lahan parkir. Kondisi ini memperparah kemacetan akibat aktivitas jual beli di luar zona resmi.

Pemerintah daerah kini dihadapkan pada keharusan merancang solusi menyeluruh. Mulai dari penataan pedagang, optimalisasi kios, hingga pembangunan fasilitas pendukung dan sistem pengawasan pasar yang berkelanjutan.

Pasar adalah denyut nadi ekonomi rakyat. Tapi ketika kios kosong dan pinggir jalan menjadi pilihan utama, yang tersisa hanyalah gambaran ketimpangan antara kebijakan dan kenyataan. Disperindag Kutim kini berpacu dengan waktu untuk mengembalikan fungsi pasar sebagai ruang transaksi yang tertib, bersih, dan layak. (ADV/ProkopimKutim/IM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini