Dari RAT ke Jalan Desa, Ardiansyah Rinci Tiga Pilar Pembangunan Hulu Kutim

Dalam Rapat Anggota Tahunan Koperasi Rukmana Sari di Desa Senyiur, Bupati Kutai Timur H Ardiansyah Sulaiman menyampaikan tiga agenda utama pembangunan pedalaman: pemberdayaan tenaga kerja lokal, penguatan koperasi, dan perbaikan jalan poros antar desa.
Media Redaksi Redaksi

Loading

Muara Ancalong — Pagi yang cerah di Desa Senyiur menjadi saksi pertemuan penting antara pemerintah dan warga. Koperasi Perkebunan Rukmana Sari menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT), forum tertinggi dalam tata kelola koperasi. Namun RAT kali ini bukan sekadar laporan neraca, melainkan ruang strategis bagi Bupati Kutai Timur H Ardiansyah Sulaiman untuk menyampaikan arah pembangunan desa.

Didampingi Ketua TP PKK Hj Siti Robiah, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Teguh Budi Santoso, serta Camat Muara Ancalong M Harun Al Rasyid, Ardiansyah membuka sambutan dengan menegaskan bahwa RAT adalah ruang demokrasi ekonomi.

“Di sini, anggota koperasi punya hak menentukan arah lembaga mereka,” ujarnya.

Fokus pertama yang disampaikan adalah pemberdayaan sumber daya manusia, khususnya optimalisasi tenaga kerja lokal. Ardiansyah menegaskan bahwa perusahaan di sekitar Senyiur wajib mengutamakan penduduk setempat sebagai tenaga kerja.

“Kita tidak boleh membiarkan warga hanya jadi penonton di tanahnya sendiri,” tegasnya.

Fokus kedua adalah penguatan koperasi sebagai fondasi ekonomi berbasis komunitas. Menurut Ardiansyah, koperasi bukan hanya entitas usaha, tetapi cerminan nilai-nilai keadilan, musyawarah, dan solidaritas. Ia menyebut Rukmana Sari sebagai contoh koperasi produktif yang layak dijadikan rujukan di tingkat kabupaten. Ia juga mengingatkan pentingnya transparansi dan partisipasi dalam pengambilan keputusan.

Fokus ketiga adalah perbaikan infrastruktur jalan poros antara Desa Kelinjau dan Senyiur. Jalan sepanjang lebih dari 20 kilometer ini menjadi urat nadi distribusi hasil kebun dan akses utama ke pusat kecamatan.

“Kami sudah anggarkan lewat skema tahun jamak hingga 2028. Jalan ini penting bukan hanya untuk mobilitas, tapi juga untuk harga hasil tani agar tidak ditekan oleh biaya angkut,” jelasnya.

Ardiansyah menegaskan bahwa proyek ini tidak bisa ditunda. Jalan rusak berarti waktu tempuh berlipat, biaya logistik membengkak, dan hasil pertanian warga tak kompetitif di pasar.

Suasana RAT terasa lebih hidup, dengan antusiasme pengurus dan anggota koperasi yang mengapresiasi arah pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan warga. Ardiansyah memastikan bahwa semua yang disampaikan hari itu akan masuk dalam catatan kerja pemerintah.

Sebagai penutup, ia kembali menegaskan bahwa koperasi bukan hanya alat ekonomi, tetapi kendaraan menuju kemandirian desa. Ia mengajak seluruh pihak; anggota koperasi, pemerintah desa, dan perusahaan sekitar, untuk membangun sinergi.

RAT Koperasi Rukmana Sari tahun ini menjadi titik temu antara kebijakan publik dan inisiatif warga. Di tengah gemuruh ekonomi skala besar, pembangunan paling berarti justru tumbuh dari ruang rapat sederhana di pedalaman. (ADV/ProkopimKutim/IM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini