Pakenoq Tawai di Sangkima, Tradisi Dayak Kenyah Jadi Penjaga Identitas Kutim
![]()
Sangatta — Semangat pelestarian budaya Dayak Kenyah Lepoq Bem kembali bergema di Kutai Timur melalui acara adat Pakenoq Tawai. Tradisi yang pernah digelar meriah di Desa Sangkima, Kecamatan Sangatta Selatan, tetap relevan sebagai perekat sosial dan penjaga identitas budaya.
Acara yang kerap berlangsung di Jalan Poros Sangatta–Bontang Kilometer 17 ini identik dengan nuansa adat yang kental. Salah satu momen paling dinantikan adalah Tari Laki Demanei, tarian perang yang sarat makna. Lebih dari sekadar pertunjukan estetika, tarian ini mengisahkan cinta sejati, kesetiaan, dan keberanian. Kisah heroik sepasang kekasih yang berjuang mempertahankan cintanya menjadi metafora nilai luhur yang diwariskan kepada generasi penerus.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, dalam kesempatan membuka acara menegaskan pentingnya komitmen kolektif menjaga tradisi. “Tradisi ini adalah identitas kita. Budaya Dayak Kenyah harus terus dilestarikan, karena di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur tentang keberanian, cinta, dan kebersamaan,” ujarnya.
Kehadiran tokoh adat, Kepala Desa Sangkima, serta Ketua Kerukunan Dayak Kenyah Lepoq Bem dalam setiap penyelenggaraan acara menunjukkan bahwa Pakenoq Tawai telah menjadi wahana edukasi publik yang hidup. Tradisi ini menjembatani generasi tua dan muda, memperkuat rasa kebersamaan sekaligus mempertegas akar budaya lokal.
Pakenoq Tawai bukan sekadar seremoni. Ia adalah napas yang menjaga warisan nenek moyang agar tidak punah ditelan zaman. Di tengah gempuran budaya modern, komitmen untuk terus menghidupkan tradisi seperti ini memastikan bahwa kearifan lokal, nilai kebersamaan, dan cerita heroik seperti Tari Laki Demanei tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat Kutai Timur. Melestarikannya adalah tugas bersama hari ini demi warisan bangsa di masa depan. (ADV/ProkopimKutim/IM)



Tinggalkan Balasan