BI Balikpapan Soroti Risiko Pasokan Pangan Jelang Nataru, Dorong Penguatan Produksi Lokal di Balikpapan-PPU-Paser
![]()
Inspirasimedia.com,BALIKPAPAN – Memasuki masa Natal dan Tahun Baru (Nataru), Bank Indonesia (BI) Balikpapan menyoroti potensi risiko pasokan pangan yang dapat memicu gejolak harga di Balikpapan, Penajam Paser Utara (PPU) dan Paser.
Isu tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) High Level Meeting (HLM) TPID gabungan yang digelar di Ballroom Hotel Gran Senyiur belum lama ini.
Rakor ini menghadirkan pimpinan daerah dari tiga wilayah, termasuk Wakil Bupati Paser Ikhwan Antasari dan Sekretaris Daerah PPU Tohar, serta jajaran OPD teknis, Bulog Kaltimtara, BPS Balikpapan, Perumda, dan perwakilan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi mengingatkan bahwa tekanan harga berpotensi meningkat apabila kesiapan pasokan tidak diperkuat sejak awal, terutama karena tingginya ketergantungan wilayah terhadap suplai pangan dari luar daerah.
“Inflasi kita masih diprakirakan berada dalam sasaran nasional, tetapi risiko gejolak harga selalu meningkat menjelang Nataru. Penguatan produksi lokal menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga, terutama komoditas pangan strategis,” ucap Robi dalam keterangan press release, Senin (8/12/2025).
Ia menegaskan perlunya percepatan pengembangan produksi lokal untuk mendukung kebutuhan SPPG dan Makan Bergizi Gratis (MBG) serta mengurangi ketergantungan terhadap daerah lain. Termasuk di dalamnya optimalisasi lahan pekarangan di PPU dan program budidaya cabai oleh kelompok PKK di Paser.
Selain aspek produksi, Robi juga menekankan pentingnya sinergi lintas daerah.
“Sinergi TPID Balikpapan, PPU, dan Paser selama ini sudah baik, tetapi perlu terus diperkuat, terutama melalui Kerjasama Antar Daerah (KAD) dan monitoring harga yang dilakukan secara konsisten,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, sejumlah kebijakan pengendalian inflasi dilaporkan telah berjalan, termasuk pelaksanaan pasar murah jelang Nataru, yakni 10 hari di Balikpapan, 12 hari di PPU, dan 23 hari di Paser.
Tiga komitmen utama dihasilkan dari HLM TPID kali ini, yakni memperluas kerja sama pasokan antara SPPG dan MBG dengan distributor serta kelompok tani, mulai mendorong pengajuan penyesuaian harga HET beras untuk Balikpapan sebagai wilayah nonsentra pangan, hingga mengoptimalkan integrasi kegiatan GPM/PM/OP agar informasi pasar murah dapat tersampaikan luas ke masyarakat.
Robi menegaskan bahwa seluruh langkah ini perlu dikawal bersama.
“Kami berharap komitmen hari ini menjadi ikhtiar kolektif untuk memastikan inflasi tetap terkendali dan masyarakat bisa menghadapi Nataru dengan aman dari gejolak harga,” pungkasnya. (*)



Tinggalkan Balasan