Memahami Hakikat Pemimpin, Pemimpin Sebagai Perintis Bukan Pewaris
![]()
Penulis: Agus Kurniady
Sekretaris Umum HMI Cabang Sangatta periode 2023-2024
Dewasa ini baik dalam pemerintahan ataupun organisasi yang menjadi central perhatian adalah bagaimana integritas seorang pemimpin dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Kemampuan menggerakan berbagai kepala dan pemikiran yang berbeda tetapi tetap dalam satu garis mencapai tujuan bersama. Hal yang tidak mudah apalagi jika dimotivasi oleh hasrat atau nafsu kekuasaan.
Pemimpin adalah orang yang diberi kehendak oleh Tuhan untuk memimpin orang lain. Seperti ungkapan kaum Determinis, bahwa semua tidak ada yang kebetulan termasuk dalam hidup ini. Bahwa manusia dari lahir hingga ia mati semua sudah ditentukan.
Manusia hanya mengikuti apa yang sudah digariskan oleh Tuhan. Walaupun pendapat ini banyak mendapatkan penolakan, penulis pun tidak sepakat namun ada beberapa orang yang mempercayainya. Ada beberapa hal didunia ini yang memang sudah di takdirkan, seperti kemampuan berbicara, ataupun menjadi seorang pemimpin.
Namun pembahasan kali ini bukan mengupas pemahaman mazhab determinis, ataupun pendapat tentang kehendak Tuhan. Melainkan membahas tentang arti pemimpin, bagaimana menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya. Mengapa isu ini menjadi fokus, sebab delapan Milyar orang di dunia ini sebagian tidak memahami peran dirinya di dunia. Sering kali kita kacau dalam mendefinisikan kata pemimpin, terbanyak pemimpin ialah diartikan sebagai seorang pejabat, manajer, ataupun kepala daerah.
Pemimpin, mungkin sebagian orang menjadikanya sebuah cita-cita, ataupun menjadi pemimpin karena terpaksa oleh keadaan. Pastinya posisi itu bukan hal yang main-main, sebab ia menyangkut harkat hidup orang banyak. Kesalahan seorang pemimpin itu fatal, banyak yang menderita banyak yang tersiksa. Begitupun terma-terma di dalam kitab suci, menjadi seorang pemimpin itu memiliki konsekuensi di dunia dan di akhirat.
Dalam sebuah Hadist dikatakan, ketika amanat diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggu saja kehancuran negeri itu. Dari redaksi itu kemudian timbul pertanyaan, apakah selama ini kita sudah benar dalam menentukan pemimpin ? hitunglah 78 tahun negeri ini, apa saja yang sudah ditinggalkan oleh pemimpin kita sekarang ? bagaimana kondisi negeri kita saat ini ? dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang kebelakang menyusul.
Bisa jadi jawabannya akan subjektif dan mengambang, sebab setiap pemimpin negeri ini memiliki basis militannya sendiri. Apapun itu, kita Kembali kepada tujuan dari tulisan ini, bagaimana menjadi seorang pemimpin yang benar, tentu versi penulis. Sebagai diskusi awal, kita akan membahas tentang antologi dari kata pemimpin.
Hakikat Pemimpin
Suatu ketika seorang kepala atau pejabat atas memberikan arahan dan pengawasan kepada bawahannya. Seorang hakim dalam sebuah persidangan memberikan vonis mati kepada terdakwa pembunuhan berencana. Seorang komandan TNI memberikan instruksi kepada anak buahnya agar tidak keluar malam. Dalam ketiga kalimat itu apakah ia sedang menjalankan fungsi memimpin ? jika iya, maka memimpin memiliki arti memerintah, mengarahkan dan mengadili.
Jika demikian, maka hal itu mengadili, mengarahkan, memerintah terjadi karena ada faktor yang sama yang menjadikan seseorang menjalankan kepemimpinannya. Yaitu adanya sebuah aturan atau peristiwa yang sudah pernah terjadi dan dalam situasi yang biasa. Faktor itu yang menyebabkan seorang pejabat teras memberikan perintah kepada bawahnnya, atau seorang Tentara mendisplinkan anak buahnya dengan dasar aturan kemiliteran.
Hal itu juga terjadi dalam kondisi yang normal atau biasa, bukan suatu kondisi yang genting yang mengharuskan seorang pemimpin mencari jalan keluar atas pemikirannya dan keputusannya sendiri.
Pemimpin adalah mereka yang condong kepada perubahan atau merintis jalan baru.
Sehingga pemimpin ialah kemampuan mencari jalan keluar atas sebuah peristiwa yang jarang terjadi atau pernah terjadi. Tetapi mengaharuskan pikiran bekerja dengan tepat dan efisien. Jadi pemimpin memiliki sinonim yang sama dengan perubahan, dan perubahan identik dengan mencari solusi yang berbeda namun efektif.
Pemimpin dengan arti perubahan ia tidak terlahir dari suatu kondisi masyarakat yang tradisional. Sebab masyarakat yang statis tidak melahirkan pemimpin yang pro dengan perubahan melainkan pemimpin yang mejalankan budaya atau adat yang padan. Perubahan disini hanya disebut sebagai perbuatan yang melawan hukum kebiasaan.
Jargon perubahan biasa sering diaspirasikan oleh kaum muda, yang memiliki jiwa yang bersih dan pemikiran yang lantang. Karakter ini menjadi modal untuk seorang pemimpin, baik memimpin di organisasi ataupun di pemerintahan.
Dalam konteks Pemilu misalnya kita memilih pemimpin yang baru supaya pemimpin itu bisa membawa perubahan atas negeri ini, agar dapat tercapai tujuannya. Perubahan yang dimaksud ialah kearah yang lebih baik lagi dengan mengentaskan segala persoalan-persoalan yang ada.
Konstitusi kita mengatur tentang pemindahan atau pergantian kekuasan, umumnya tiap 5 tahun sekali. Peraturan kita sangat serius terkait pemilihan umum, KPU dan Bawaslu merupakan pengejawantahan dari aturan itu. Belum lagi dari segi keamanan, yang melibatkan TNI – POLRI dan seluruh lapisan masyarakat.
Disisi lain, bangsa ini masih punya pekerjaan rumah (PR) panjang dalam menghadirkan pemilihan dengan jujur dan adil, dan tanpa black campaign, money politic, adu domba serta kecurangan system. Hal ini menjadikan tugas bagi pemerintahan sebagai penyelenggara dan partisipasi masyarakat secara umum.
Tugas dan tanggung jawab ini berpengaruh kepada hasil dari pemilihan pemimpin itu sendiri. Memang pemilihan secara umum dan langsung bisa menghasilkan dua kemungkinan, pemimpin yang mampu dan tidak mampu. Jadi apa sebenarnya hakikat dari pemimpin itu ? dan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya.
Pada awal paragraf diatas dijelaskan memimpin ialah mencari solusi atas berbagai persoalan yang tidak memiliki peristiwa sebelumnya, ataupun kejadian yang pernah terjadi namun sangat jarang terjadi serta dalam kondisi yang tidak biasa.
Sehingga disebutkan pemimpin itu identik dengan perubahan, dan perubahan dekat dengan kaum muda yang membawa gagasan. Jika ada pemimpin yang anti terhadap pemuda maka patut dicurigai, bisa jadi ia anti terhadap perubahan dan hanya menjadi boneka dari orang lain.



Tinggalkan Balasan