Hari Pers Nasional, AMSI Kaltim Angkat Isu Migas: Siapa yang Diuntungkan?

Loading

INSPIRASIMEDIA.COM, Tenggarong – Kalimantan Timur dikenal sebagai daerah kaya migas, tetapi realitas di lapangan berbicara lain antrean panjang BBM masih menjadi pemandangan biasa, sementara gas LPG kerap langka.

Menyoroti paradoks ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Kaltim berinisiatif menggelar Dialog Bisnis Migas pada 07 Februari 2025 di Gedung Pendopo Wakil Bupati Kutai Kartanegara.

Ketua Panitia HPN AMSI Kaltim, Charles Siahaan menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremonial dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh pada 9 Februari.

Lebih dari itu, dialog ini diharapkan menjadi ajang bagi pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha untuk mencari solusi konkret atas permasalahan migas di Kaltim.

“Kaltim sering disebut lumbung energi nasional, tapi kenyataannya masyarakat masih harus antre BBM dan susah mendapatkan gas LPG. Ini ironi yang perlu kita bahas dan carikan solusinya,” ujar Charles.

Menurutnya, distribusi energi yang tidak merata menjadi salah satu penyebab utama masalah ini. Selain itu, keterlibatan pengusaha lokal dalam industri migas masih sangat terbatas, baik di sektor hulu maupun hilir.

“Banyak pengusaha Kaltim yang ingin masuk ke bisnis migas, tidak hanya di hilir seperti penjualan BBM, tetapi juga di sektor hulu seperti eksplorasi dan eksploitasi. Namun, mereka menghadapi tantangan besar, mulai dari keterbatasan modal hingga akses yang sulit,” jelasnya.

Dialog ini akan menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, hingga praktisi industri migas. Diharapkan, diskusi ini bisa membuka peluang bagi pengusaha lokal agar lebih berperan dalam bisnis migas di daerahnya sendiri.

“Kami ingin pers menjadi jembatan antara masyarakat, pengusaha, dan pemerintah. Dengan dialog ini, kita bisa mencari solusi agar pelaku usaha lokal tidak hanya jadi penonton di tanah sendiri,” tegas Charles.

Melalui Dialog Bisnis Migas ini, AMSI Kaltim berharap ada langkah konkret yang bisa diambil untuk memperbaiki distribusi energi serta meningkatkan keterlibatan pengusaha lokal di sektor migas.

Apakah diskusi ini akan menjadi awal perubahan atau sekadar wacana? Semua mata kini tertuju pada pertemuan yang diharapkan bisa membawa solusi bagi persoalan energi di Kaltim. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini