Kutim Hadapi Tantangan Besar dalam Perkembangan Koperasi
![]()
INSPIRASIMEDIA.COM, SANGATTA – Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Kutai Timur (Kutim), Ahmad Ansari mengungkapkan bahwa kondisi koperasi di wilayah Kabupaten Kutim masih jauh dari ideal. Beragam masalah yang kompleks menghambat perkembangan koperasi, mulai dari aspek kelembagaan, manajemen keuangan hingga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pengurus koperasi itu sendiri.
Menurut Ahmad, salah satu masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya legalitas formal dari anggota koperasi. “Banyak koperasi belum memiliki legalitas formal yang diakui oleh anggotanya, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkoperasian,” ujar Ahmad.
Hal ini mengakibatkan administrasi organisasi tidak terkelola dengan baik, yang pada akhirnya mempengaruhi kinerja koperasi secara keseluruhan.
Selain itu, Ahmad menyoroti bahwa banyak koperasi belum memiliki Anggaran Dasar Rumah Tangga (ADRT) yang menjadi panduan operasional mereka. Inkonstistensi dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kesepakatan bersama juga menjadi masalah yang sering terjadi. “Masih banyak koperasi yang tidak melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) secara rutin setiap tahunnya,” tambahnya.
Dari sisi keuangan, koperasi di Kutim menghadapi tantangan besar dengan tingginya piutang tak tertagih. Hal ini berpotensi menggerus aset koperasi dan mengancam keberlangsungan operasional mereka. Modal usaha yang kecil, yang hanya terdiri dari simpanan pokok dan simpanan wajib, tidak mengalami perubahan signifikan karena partisipasi anggota yang rendah. “Modal yang kecil menyebabkan koperasi sangat bergantung pada utang dan bantuan untuk melayani anggotanya,” jelas Ahmad.
Menurtnya, lemahnya permodalan juga berdampak pada efektivitas biaya operasional, terutama dalam pemasaran yang tidak mampu menjangkau pasar lebih luas. Bagi koperasi di sektor perkebunan, hutang pembangunan kebun kemitraan yang belum lunas dan rendahnya produktivitas menjadi tantangan yang terus menerus dihadapi.
Ahmad mengingatkan bahwa penggunaan dana replanting kebun harus dikelola dengan serius agar dapat menghasilkan manfaat yang maksimal ketika siklus produksi kebun berakhir.
Ahmad Ansari berharap koperasi di Kutim bisa menyikapi berbagai masalah ini dengan serius dan mengambil langkah-langkah konkret untuk memperbaiki situasi. “Peningkatan kualitas SDM, perbaikan manajemen keuangan, dan penguatan kelembagaan menjadi kunci utama agar koperasi di Kutim dapat berkembang lebih baik dan memberikan manfaat optimal bagi anggotanya,” tegasnya.
Sebagai informasi, dengan tantangan yang begitu besar, peran aktif dari semua pemangku kepentingan, termasuk anggota koperasi, pengurus dan pemerintah daerah Kutim sangat diperlukan untuk membawa koperasi di Kutim menuju arah yang lebih positif. (Adv/bt)



Tinggalkan Balasan