Sekolah Filial Jadi Solusi Akses Pendidikan di Sejumlah Wilayah Kutim
![]()
inspirasimedia.com, SANGATTA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menerapkan sekolah filial sebagai salah satu solusi untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah yang belum memiliki jumlah peserta didik cukup untuk mendirikan sekolah baru.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono menjelaskan, sekolah filial merupakan sekolah perantara atau sekolah darurat yang biasanya dibutuhkan karena faktor akses dan keterjangkauan.
“Sekolah filial itu sebenarnya sekolah perantara atau sekolah darurat. Biasanya karena faktor akses keterjangkauan,” kata Mulyono.
Menurutnya, sekolah filial dibutuhkan ketika jumlah peserta didik di suatu wilayah belum mencukupi untuk membangun sekolah sendiri. Di sisi lain, apabila anak-anak harus bersekolah di sekolah induk, jarak yang terlalu jauh juga menjadi kendala.
Namun, sekolah filial tetap berada di bawah sekolah induk. Pembelajaran berlangsung di lokasi yang lebih dekat dengan tempat tinggal anak, sementara tenaga pengajarnya berasal dari sekolah induk.
Mulyono mencontohkan keberadaan sekolah filial di wilayah Pulau Miang dan sejumlah wilayah lainnya. “Filial itu boleh dibilang anakan. Ada induknya,” ujarnya.
Ia menyebut, terdapat lebih dari 10 sekolah filial di Kutim. Keberadaan sekolah tersebut dapat membantu anak-anak di wilayah dengan akses terbatas untuk tetap mendapatkan pembelajaran tanpa harus menempuh jarak jauh menuju sekolah induk.
Dengan jumlah peserta didik yang relatif sedikit menjadi salah satu kondisi yang melatarbelakangi keberadaan sekolah filial. Mulyono mencontohkan, jika dalam suatu wilayah hanya terdapat sekitar 10 hingga 20 anak, pembelajaran tetap dapat dilaksanakan melalui filial.
“Kalau misalnya ada 10 orang, 20 orang kan itu mungkin karena sulit dijangkau dia sekolah di sana. Nanti gurunya yang datang,” jelasnya.
Mulyono menuturkan, sekolah filial dapat berkembang menjadi sekolah tersendiri apabila jumlah peserta didik dan kondisi wilayah sudah memungkinkan.
“Kalau memang sudah kondisinya memungkinkan untuk dibangun sendiri, kita dirikan sendiri. Artinya menjadi pengembangan atau pemekaran sebuah sekolah,” katanya.
Namun keterbatasan tenaga pengajar masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi. Untuk sejumlah sekolah filial, kebutuhan honor guru juga mendapat bantuan dari pihak perusahaan.
“Karena guru sangat terbatas, beberapa sekolah ini juga dibantu oleh pihak perusahaan. Artinya guru-guru itu pokoknya honornya dibantu oleh pihak perusahaan,” pungkas Mulyono. (Ls/ADV)



Tinggalkan Balasan