Bukan Cuma Bahasa Kutai, Seni Sampe hingga Jepen Masuk Pembelajaran Sekolah di Kutim

Media Redaksi Redaksi
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham (Foto: Dok: inspirasimedia.com)

Loading

inspirasimedia.com, SANGATTA – Pengenalan budaya daerah di Kutai Timur (Kutim) tidak hanya dilakukan melalui kegiatan seni dan festival. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim juga memasukkan sejumlah pengetahuan budaya daerah dalam kurikulum muatan lokal di sekolah.

Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham mengatakan, kurikulum muatan lokal tersebut diterapkan pada jenjang SD dan SMP. Salah satu materi yang diajarkan yakni Bahasa Kutai. Selain bahasa daerah, tersedia pula buku seni budaya yang memuat berbagai kesenian dan kebudayaan lokal.

“Di buku seni budaya itu ada Tarsul, mengenalkan gitar Sampe, mengenalkan tari Jepen, mengenalkan gambus, mengenalkan alat-alat musik tradisional,” ujar Ilham.

Selain kesenian itu, materi muatan lokal juga mengenalkan makanan tradisional, mandau serta kebudayaan daerah lainnya.

Tak hanya seni dan bahasa, Disdikbud juga memasukkan pengetahuan mengenai sumber daya alam yang ada di Kutim dan Kalimantan Timur (Kaltim). Anak-anak dikenalkan dengan berbagai jenis kayu, rotan, serta potensi sumber daya alam daerah.

Ilham mencontohkan, masih banyak jenis kayu di daerah yang belum tentu dikenal oleh anak-anak. Karena itu, pengetahuan tersebut turut dimasukkan dalam materi muatan lokal agar mereka mengetahui jenis dan asal kekayaan alam yang ada di daerahnya.

Ilham menuturkan, pembelajaran muatan lokal juga diarahkan agar anak-anak mengenal budaya yang ada di daerah sendiri, selain budaya modern dan budaya luar.

“Tidak hanya tahu budaya modern. Dengan kurikulum muatan lokal itu bisa tahu, bisa paham bahwa ternyata ada makanan tradisional, ada gitar Sampe, ada mandau,” katanya.

Namun, pelaksanaan pembelajaran Bahasa Kutai masih menghadapi persoalan dari sisi tenaga pengajar. Ilham menyebut tidak semua guru yang mengajarkan Bahasa Kutai merupakan penutur asli.

Ia mencontohkan, ada guru yang berasal dari daerah lain tetapi harus mengajarkan Bahasa Kutai. Kondisi ini membuat Disdikbud perlu memberikan penguatan kepada guru agar kemampuan berbahasa daerah mereka semakin baik.

“Makanya sekarang dilakukan oleh Dinas Pendidikan untuk mengirimkan guru-guru belajar bahasa itu tadi supaya lebih bagus ketika mengajarkan kurikulum muatan lokal bahasa daerah dalam bentuk Bahasa Kutai,” jelasnya.

Di bidang kebudayaan, penguatan juga dilakukan dengan mengenalkan kesenian lokal kepada guru. Materinya antara lain Tarsul hingga teater Mamanda, sehingga guru tidak hanya mengenalkan kesenian modern kepada peserta didik.

Ilham menilai, sekolah menjadi salah satu tempat penting untuk mengenalkan budaya daerah kepada generasi muda.

“Sekolah itu menjadi basis keilmuan dan juga menjadi basis budaya,” pungkasnya. (Ls/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini