Kapal Nelayan Tenggelam Dihantam Ombak Besar di Muara Kenyamukan, Kerugian Capai Rp75 Juta
![]()
INSPIRASIMEDIA.COM, SANGATTA – Sebuah kapal nelayan milik Nelson, warga Desa Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, tenggelam setelah dihantam ombak besar setinggi 2 meter saat dalam perjalanan pulang setelah memancing, pada Minggu, 22 Desember 2024 siang pada pukul 11.00 samapi deangn pukul 21.12 malam. Kapal tersebut berukuran 10 meter panjang dan lebar 1,5 meter. Akibat kejadian ini, diperkirakan kerugian yang dialami mencapai Rp75 juta.
Nelson yang sedang melakukan aktivitas memancing bersama dua rekannya mengungkapkan bahwa cuaca buruk yang terjadi menjelang akhir tahun menjadi faktor utama terjadinya kecelakaan ini. “Memang cuaca buruk menjelang akhir tahun, ombak besar dan angin kencang sudah sering terjadi,” ujar Nelson saat ditemui wartawan di Kenyamukan.
Kapal tersebut berangkat dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kenyamukan sekitar pukul 18.00 WIB dan menuju tempat permancingan sekitar 12 kilometer dari lokasi. Saat mereka hendak kembali, ombak besar yang disertai hujan deras menghantam kapal. Nelson menceritakan, waktu itu saya berusaha masuk ke jalur sungai Kenyamukan, tapi ombak pertama langsung mengenai kapal. Akhirnya, kami memutuskan untuk kembali.

Meski telah berusaha mengarahkan kapal kembali ke arah yang aman, kondisi kapal semakin buruk. “Kemudi kapal rusak, kami sempat mencoba membuang jangkar, namun ombak begitu kuat. Kami hanya bisa menunggu bantuan,” jelas Nelson.
Setelah beberapa saat terombang-ambing di Muara Kenyamukan dekat lanal Sangatta, Nelson akhirnya menghubungi tetangganya, Rahmat, untuk meminta bantuan. “Saya telepon Rahmat, dan dia langsung menghubungi Amir untuk segera membantu,” lanjut Nelson.
Bantuan pun datang dari rekan-rekan nelayan setempat, seperti Lanal, Polairud termasuk Udin yang mengoperasikan kapal lain untuk melakukan evakuasi. “Kami sudah dua setengah jam di TKP itu, berusaha menyelamatkan diri. Kapalnya sudah karam, dan air mulai masuk ke kapal,” kata Nelson, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi selama operasi penyelamatan.
Saat ini, kapal milik Nelson masih berada di Muara Kenyamukan dan belum dapat dievakuasi karena gelombang besar yang terus menghantam wilayah tersebut. Bahkan, kapal tersebut sudah pecah, dan bagian-bagian kapal telah berserakan di pinggiran pantai. “Kapal sudah pecah, dan potongan-potongan kapal itu sudah terdampar di pantai,” ujar Nelson.
Nelson dan dua rekannya akhirnya berhasil diselamatkan, meski kapal mengalami kerusakan parah. “Saya hanya berpikir menyelamatkan nyawa dulu, kapal biar nanti saja,” ujar Nelson sambil mengenang kejadian itu.
Ketua Dewan Pengurus Kabupaten (DPK) Asosiasi Permancingan Indonesia (APRI) Kabupaten Kutim, Husaifa turut memberikan komentar terkait kejadian tersebut. Dia menyarankan agar dilakukan pengerukan di Muara Kenyamukan untuk mencegah terjadinya pendangkalan yang dapat membahayakan para nelayan.
“Paling tidak kami akan hearing dengan pihak legislator untuk bagaimana supaya pendangkalan di Muara Kenyamukan ini bisa dikeruk agar muara ini bisa dilewati oleh kapal nelayan, baik saat pasang maupun surut. Kalau bisa dikeruk, galur atau ombak besar yang mengarah ke kapal bisa diminimalisir,” ujar Husaifa.
Husaifa juga mengingatkan para nelayan dan penghobi mancing agar lebih berhati-hati selama musim hujan dan gelombang besar. “Harapannya, teman-teman nelayan dan penghobi memancing menunda dulu aktivitas mereka. Jangan memaksakan diri saat kondisi cuaca tidak mendukung, agar tidak ada korban lagi,” tegasnya.
Saat ini, kapal Nelson masih belum bisa dievakuasi karena gelombang besar. Proses evakuasi sebelumnya sempat terhenti setelah seorang rekan Amir nelayan pingsan akibat kelelahan dalam upaya penyelamatan.
“Proses evakuasi sempat memakan korban. Pak Amir kapten kapal yang membantu, pingsan karena kelelahan. Setelah itu, saya minta semua orang naik ke darat karena kondisi cuaca yang sangat berisiko,” ujar Husaifa.
Proses evakuasi kapal akan dilanjutkan setelah cuaca membaik dan ombak mereda, mengikuti pasang surut air laut. “Evakuasi baru bisa dilanjutkan ketika kondisi air laut turun dan kapal dapat dinaikkan dengan aman. Kami akan menunggu cuaca agak redah,” lanjut Husaifa. (WA)



Tinggalkan Balasan