Antisipasi Lonjakan Harga, Pemkab Berau Aktifkan Sistem Siaga Inflasi Jelang Nataru
![]()
Inspirasimedia.com,TANJUNG REDEB – Dalam menyambut peningkatan mobilitas warga menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau tak sekadar bersiap, tetapi juga mengaktifkan “sistem siaga inflasi” guna mencegah gejolak harga kebutuhan pokok yang berpotensi melonjak di penghujung tahun.
Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said, menyatakan bahwa periode Nataru selalu menjadi momen paling rawan dalam stabilitas harga.
“Akhir tahun itu bukan hanya soal perayaan. Ada lonjakan aktivitas masyarakat yang otomatis memicu kenaikan permintaan. Kalau tidak dikawal ketat, harga bisa bergerak liar,” katanya.
Data terkini memperlihatkan inflasi Berau secara year-on-year (YoY) pada November 2025 mencapai 2,76 persen, naik tajam dari 1,78 persen pada Oktober.
Meningkatnya permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) ditambah cuaca yang tidak stabil disebut sebagai pemicu utama.
Said menegaskan bahwa pergerakan harga beberapa komoditas selalu menjadi “langganan merah” menjelang Nataru, seperti cabai, bawang, daging ayam, telur, gula dan minyak goreng.
“Komoditas-komoditas ini cepat sekali merespons permintaan. Kalau pasokannya goyah sedikit saja, efeknya langsung dirasakan masyarakat,” tuturnya.
Agar tidak kecolongan, Pemkab Berau meminta seluruh anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memperketat koordinasi lintas instansi.
“Distribusi harus lancar, pasokan harus aman, dan harga harus terkendali. Kita tidak punya ruang untuk lambat,” ujar Said.
Said menekankan bahwa stabilitas harga bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, melainkan harus dikerjakan bersama oleh BUMN/BUMD, distributor, aparat keamanan hingga pelaku usaha.
Beberapa langkah konkret pun mulai dijalankan, antara lain, operasi pasar murah di wilayah padat penduduk dan kampung-kampung, optimalisasi penyaluran beras SPHP untuk menekan harga beras di pasar, stabilisasi harga bahan pokok melalui kesepakatan bersama pedagang dan distributor, dan monitoring lapangan lebih sering menjelang puncak libur Nataru.
Fokus utama pemerintah, tegas Said, bukan hanya menjaga harga tetap stabil, tetapi juga memastikan daya beli masyarakat tidak goyah.
“Kalau harga terkendali, masyarakat bisa berbelanja dengan tenang menjelang Nataru. Kita ingin suasana perayaan tetap aman dan tidak dibayang-bayangi kekhawatiran soal lonjakan harga,” tutupnya. (*)



Tinggalkan Balasan