Legislator Kutim Soroti Kelas Rusak Hingga Sekolah Tanpa WC di Pelosok
![]()

SANGATTA – Komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam mengalokasikan 20 persen APBD untuk pendidikan ternyata belum menyelesaikan permasalahan dasar di sektor ini. Fakta di lapangan, masih ditemukan fasilitas sekolah yang memprihatinkan di daerah terpencil.
Anggota DPRD Kutim dari Partai Gelombang Rakyat Indonesia, Shabaruddin, menyoroti bahwa meskipun alokasi anggaran terpenuhi, fasilitas pendidikan di pelosok masih jauh dari kata layak. Kondisi yang diungkapkan Shabaruddin menjadi perhatian serius DPRD, yang bertekad memastikan lingkungan belajar yang sehat, layak, dan aman bagi seluruh anak Kutim.
Temuan fasilitas kurang memadai, khususnya di daerah terpencil
Shabaruddin membagikan hasil temuan lapangan selama masa reses. Ia menunjukkan beberapa kerusakan infrastruktur dasar sekolah. Keluhan yang paling sering diterima dari masyarakat adalah ketidaklayakan fasilitas pendidikan.
Ia mencatat banyak kondisi yang jauh dari standar. “Masih banyak sekolah-sekolah yang dinding, atap, bahkan lantainya jebol,” tuturnya.
Ia juga menyoroti temuan terakhir pada bulan September yang sangat mengkhawatirkan. “Terakhir saya reses September lalu, saya mendapatkan salah satu sekolah kelasnya rusak, lantai jebol. Kemudian di daerah lainnya, sekolahnya tidak punya WC,” papar Shabaruddin.
Selain kondisi fisik gedung, permasalahan akses pendidikan juga menjadi sorotan. Shabaruddin menilai banyak masyarakat di desa harus menempuh jarak cukup jauh dari rumah ke sekolah. Kondisi ini ditambah dengan kebutuhan akan ruang kelas baru. Meskipun anggaran pendidikan 20 persen telah terpenuhi, ia menekankan bahwa masalah infrastruktur, khususnya penambahan ruang kelas baru di pelosok, masih membutuhkan perhatian lebih.
Komitmen Legislator Mendorong Perbaikan Infrastruktur Dasar
Melihat kondisi tersebut, DPRD Kutim menegaskan komitmennya untuk segera mendorong perbaikan menyeluruh. Perhatian khusus dari dewan ini menunjukkan upaya kuat untuk pemerataan kualitas pendidikan di seluruh Kutim.
Shabaruddin bersyukur target APBD 20 persen untuk pendidikan terpenuhi. Namun, ia tetap menekankan pentingnya komitmen bersama untuk segera menangani masalah infrastruktur ini.
“Kami akan terus mendorong perbaikan sarana pendidikan sebagai prioritas utama,” tegasnya. Ia menekankan bahwa perbaikan infrastruktur dasar seperti ruang kelas dan fasilitas sanitasi adalah pondasi penting untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang optimal. (ADV)



Tinggalkan Balasan