Beasiswa Pendidikan di Kutim Harus Berdasar Dua Indikator Objektif
![]()

SANGATTA –Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutai Timur (Kutim), Yulianus Palangiran, menegaskan bahwa penyaluran beasiswa harus didasarkan pada skala prioritas yang ketat. Kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk menjamin bantuan tepat sasaran di tengah keterbatasan anggaran daerah.
Yulianus Palangiran, politikus dari Partai NasDem, menjelaskan pentingnya sistem ini. Penyaluran beasiswa tidak mungkin ditujukan untuk seluruh calon mahasiswa, karena itu harus ada skala prioritas yang dijalankan. Dengan demikian, Pemkab Kutim wajib memastikan bantuan pemerintah benar-benar sampai kepada yang paling membutuhkan dan berhak.
Untuk mencapai efektivitas, Komisi D DPRD menetapkan dua indikator utama sebagai penentu kelayakan penerima beasiswa. Dua indikator ini harus bisa dinilai secara objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Agar penerima manfaat beasiswa memang pihak yang layak dan berhak.
“Tergantung dua model penyaluran bantuan beasis kepada para mahasiswa nanti itu ternyata kan beasiswa ini kan ada dua skala prioritas yang menjadi penilaian satu oleh karena prestasinya di dalam sekolah itu”.
Kriteria kedua adalah kemampuan orang tua siswa. Faktor utama diberikannya program beasiswa berupa karena kondisi finansial orang tua siswa yang serba kekurangan dan tidak mampu membiayai pendidikan anak hingga jenjang perguruan tinggi. Sistem ini dirancang untuk mencegah salah sasaran bantuan.
Penerapan skala prioritas ini diyakini Yulianus dapat mengoptimalkan manfaat program beasiswa. Mekanisme seleksi yang ketat ini diharapkan dapat menyentuh pelajar-pelajar berprestasi dari kalangan kurang mampu. Seleksi penerima beasiswa juga harus dilakukan secara objektif.
“Ada skala prioritas yang harus dilakukan Pemkab Kutim,” kata Yulianus, menegaskan komitmen Pemkab untuk meningkatkan sumber daya manusia di Kutim melalui program beasiswa yang adil dan berkeadilan.
Target jangkauan beasiswa ini juga mencakup mereka yang berada di daerah terpencil, sehingga kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dapat terbuka lebar. Prestasi akademik dan kondisi ekonomi keluarga menjadi indikator kunci yang menjamin beasiswa menjadi investasi nyata bagi sumber daya manusia (SDM) Kutim. Kualitas SDM yang mumpuni, akan jadi kunci untuk mewujudkan Kutim yang maju dan sejahtera. (ADV)



Tinggalkan Balasan