Legislator Kutim Petakan Strategi Sukses Koperasi Merah Putih di Wilayah Pedesaan Kutim
![]()

SANGATTA—Koperasi Merah Putih adalah salah satu program andalan yang sudah resmi diluncurkan pemerintah. Program ini masih berada di tahap awal, dengan kegiatan operasional yang belum berjalan optimal. Setiap program yang baru diinisiasi, pasti memiliki tantangan.
Kondisi ini menarik perhatian pada potensi tantangan, terutama terkait kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) di berbagai daerah, termasuk di Kutai Timur (Kutim). Untuk mencapai kemajuan kolektif, program ini memerlukan fondasi yang kuat, tidak hanya dari segi teknis, tetapi juga karakter pengelola.
Kesenjangan SDM sebagai prediksi tantangan krusial
Legislator Kutai Timur, Akhmad Sulaeman, mengamati perkembangan koperasi ini dan mengakui bahwa kendala utama belum dapat diidentifikasi secara jelas, mengingat program belum beroperasi.
“Nah ini pasti karena kita ini belum berjalan yah, sudah dibentuk tapi belum ada kegiatan yang terlaksana jadi mungkin tentang hambatannya, tentu saja kalau daerah daerah perkotaan mungkin itu sudah bisa karena maju,” ujar Ahmad Sulaeman.
Meskipun demikian, ia memprediksi bahwa tantangan paling krusial justru akan muncul di daerah-daerah di luar pusat kota. Menurutnya, kesenjangan kualitas SDM antara wilayah perkotaan dan pedesaan akan menjadi faktor penentu bagi keberhasilan Koperasi Merah Putih.
Jiwa sosial sebagai pondasi utama koperasi
Akhmad Sulaeman menekankan bahwa mengelola koperasi membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis.
“Akan tetapi di daerah daerah tertentu, pasti sumber daya manusia. Karena namanya koperasi itu membutuhkan orang orang yang memiliki pertama mungkin jiwa sosial,” jelasnya.
Nilai-nilai sosial, seperti gotong royong dan kepedulian terhadap kemajuan kolektif, dinilai sebagai pondasi utama untuk Koperasi Merah Putih. Tanpa jiwa sosial tersebut, koperasi dianggap akan kesulitan untuk berkembang secara berkelanjutan, bahkan jika telah memiliki struktur dan modal yang memadai.
Pembinaan karakter dan keterampilan manajerial
Para pengelola koperasi di daerah biasanya sudah memiliki modal sosial yang besar, berupa hubungan kekeluargaan yang erat dan tradisi gotong royong. Namun, mereka seringkali belum terampil dalam hal-hal tertentu. Oleh karena itu, pembinaan karakter pengelola menjadi aspek yang tidak kalah pentingnya dengan pelatihan manajerial.
Fokus pada pembinaan karakter dan nilai-nilai sosial ini diharapkan dapat menjadi kunci untuk memastikan Koperasi Merah Putih dapat berjalan sukses dan berkelanjutan, terutama di wilayah pedesaan Kutai Timur. (ADV)



Tinggalkan Balasan